Small Business


Sunday

Festival Budaya Jepang

Selain terkenal dengan disiplin yang sangat ketat, Jepang juga terkenal dengan budaya nenek moyang yang masih tetap melekat hingga saat ini. Masyarakat Jepang, khususnya generasi tuanya, masih memegang teguh budaya yang telah diwarisi secara turun temurun. Hal ini tergambar dari beberapa festival tahunan yang selalu digelar tiap tahunnya, juga pada beberapa upacara adat yang masih sering digelar masyarakat.
Adapun beberapa festival tahunan yang sering kali menarik perhatian wisatawan antara lain adalah;

1.    Hina Matsuri
Perayaan tahunan ini dirayakan setiap tanggal 3 Maret, dan dirayakan hanya oleh keluarga yang memiliki anak perempuan saja. Dalam perayaan ini, sebuah keluarga harus memajang satu set boneka Hina atau Hina Ningyo, yang terdiri dari boneka Kaisar, permaisuri, dayang-dayang dan para pemain musik. Boneka Hina ini dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat yang mengganggu anak-anak perempuan mereka dan dapat menolak bala yang akan mengganggu kehidupan keluarga mereka.
Setelah perayaan selesai, biasanya para keluarga ini kembali menyimpan boneka-boneka Hina ini dengan baik untuk kemudian dipergunakan lagi di perayaan tahun depan.
Hina Matsuri

2.    Hanami
Kegiatan ini adalah satu kegiatan unik yang sudah menjadi budaya di masyarakat Jepang, yaitu kegiatan melihat bunga sakura. Seperti yang sudah kita ketahui, bunga sakura adalah bunga yang menjadi ciri khas dari negri ini. Bunga ini tidak sepanjang tahun bermekaran secara serentak, namun di saat musim bermekaran....akan terlihat sangat indah. Hal itulah yang membuat banyak orang Jepang meluangkan waktunya untuk sekedar berkumpul bersama teman atau kerabat untuk menikmati makan siang bersama sambil melihat keindahan bunga ini.
Dan biasanya ketika musim sakura bermekaran, hampir seluruh taman di Jepang penuh dengan orang-orang yang berkumpul dan bercengkrama bersama.
Hanami

3.    Kodomo no Hi
Festival tahunan ini diperuntukan untuk anak laki-laki. Biasanya dirayakan pada bulan Mei, ditanggal 5 setiap tahunnya. Pada perayaan ini, orang tua memohon keselamatan dan keberkahan bagi anak laki-laki mereka. Setiap keluarga biasanya mengibarkan sebuah bendera berbentuk ikan di depan rumah mereka.
Kodomo no Hi

4.    Tanabata  Matsuri
Atau festival Tanabata, memiliki latar belakang dongeng yang sangat melegenda di masyarakat Jepang,yaitu pertemuan bintang Altair dan bintang Vega di gugusan Bimasakti. Festival ini dirayakan setiap tanggal 7 bulan 7 setiap tahunnya. Pada festival ini orang Jepang menuliskan berbagai cita-cita atau keinginannya di tahun itu di sebuah kertas, kemudian kertas ini digantungkan pada sebuah batang bambu. Setelah festival ini selesai, batang bambu itu kemudian dihanyutkan ke sungai dengan harapan Dewa akan mengabulkan seluruh keinginan yang sudah mereka tuliskan.
Tanabata Matsuri

Adapun beberapa kegiatan budaya yang juga masih sangat dipelihara dan dijaga karena kesakralan nilainya adalah;

1.    Cha no yu
Atau bahasa Indonesia-nya diartikan sebagai upacara minum teh ini, memiliki nilai sakral yang masih terus dijaga oleh masyarakat Jepang. Dalam cha no yu, teh disiapkan dan disajikan oleh seseorang yang mendalami seni minum teh dalam sebuah ruangan upacara minum teh, yang disebut Chashitsu. Di dalam Chashitsu dilengkapi dengan Kakejiku atau lukisan dinding, Chabana atau bunga dan mangkuk keramik yang disesuaikan dengan musim dan status tamu yang diundang.
Upacara minum teh ini bukan hanya minum teh yang pada umumnya kita lakukan. Tapi cha no yu juga berarti seni dalam arti yang luas, cha no yu ini juga mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup  tujuan hidup, cara berfikir, agama, apresiasi peralatan cha no yu dan tata letak benda seni dalam ruangan Chashitsu.
Cha no yu memerlukan pendalaman dan penyempurnaan secara terus menerus sepanjang hidup. Tamu-tamu yang diundang pun hendaknya mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati panganan kecil yang disajikan.
Umumnya teh yang digunakan adalah teh bubuk Matcha, yaitu teh hijau yang sudah digiling halus.
Perlengkapan Cha no yu

2.    Owara Kaze no Bon
Festival tari Bon di Prefektur Toyama, digelar setiap tanggal  1 s/d 3 September setiap tahunnya.
Tarian ini dibawakan oleh para penari disepanjang jalan-jalan kota Yatsuo yang mendaki dan menurun diiringi alunan melodi nan melankolis dari shamisen dan kokyu serta lantuan suara merdu seorang wanita yang berusia setengah  baya.
Tarian ini diperuntukan untuk para Dewa agar memberi panen yang melimpah dan rejeki yang banyak.
Owara Kaze no Bon


Jadi, kalo anda sedang merencanakan untuk jalan-jalan ke Jepang...ada baiknya anda sesuaikan jadwal anda dengan berbagai festival tahunan yang setiap tahun diadakan di Jepang. Dijamin liburan seru pasti menanti anda di sana. Agar tidak hanya sekedar liburan, ada baiknya anda juga mempelajari nilai budaya dan filosofi dari setiap tradisi atau festival yang anda ikuti.


No comments:

Kata-kata Hikmah..! Jelang Pemilu, Jangan Golput ! Di Pemilu 2009